Males Baca Buku #2: Megatruh

Waktu baca: 2 menit Ini adalah episode kedua Males Baca Buku–yang berjarak sepuluh bulan dari episode pertama. Luar biasa sekali konsistensinya, bukan? Ada banyak alasan kenapa proyek ini tertunda lama sekali, tapi yang utama adalah koneksi internet. Ternyata, jadi Youtuber dan podcaster itu nggak gampang, ya. Butuh kesabaran yang skalanya epik banget. Membuat episode kedua ini saja butuh satu […]

Maria Mampir ke Bandung

Waktu baca: 6 menit “Nggak papa, hujan itu kan berkah,” ujar Feby Indirani dengan santai, menanggapi keluhan saya akan hujan badai yang tiba-tiba mengguyur Bandung kala itu. Dua kali Bukan Perawan Maria mampir ke kota ini, dua-duanya diiringi oleh hujan. Bandung tak jauh berbeda dengan Jakarta. Kala dilanda hujan yang agak besar, jalan-jalan tergenang air sehingga macet pun muncul […]

Escaping Kodachrome’s Obvious Flaws

Waktu baca: 6 menit Stating (I think the more appropriate word is “confessing”) that I like Kodachrome (2018) is actually not the happiest thing for me. I do that with serious, profound guilt because everything about this movie screams cliché. It is road trip, it is about a pair of estranged parent and kid, it is a nostalgia of […]

Males Baca Buku #1: Secangkir Kopi dan Sepotong Donat

Waktu baca: 1 menit Setelah iseng-iseng membacakan potongan cerita pendek Ted Chiang pekan lalu lewat Instagram Story, saya pikir kenapa tidak membacakan sebuah cerita lengkap saja sekalian? Hitung-hitung berbagi bacaaan-bacaan menarik dan jadi hiburan juga buat saya. Video di bawah ini hasil coba-coba saya membacakan sebuah cerita pendek karya Umar Kayam dari kumpulan cerita Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Sebenarnya, […]

Mengingat Kembali Bali yang Sejati

Waktu baca: 2 menit Ubud kini tak lagi sehening dulu. Kafe-kafe dan butik-butik trendi telah bermunculan di sudut-sudut kota kecil itu layaknya jamur di musim hujan. Akan tetapi, di tengah riuhnya turis yang celingak-celinguk mencari arah di Jalan Raya Ubud, sebuah gapura megah masih berdiri, menjadi batas antara ruang kota yang bergerak cepat menuju modernitas dengan ruang gerak tradisi […]

Menikmati Mi Instan Hasil Mutasi

Waktu baca: 2 menit Apakah sebuah pameran karya seni harus dilakukan di sebuah galeri seni? Tidak juga. Ada banyak ruang alternatif yang bisa digunakan untuk memamerkan karya-karya seni. Lobi hotel, kafe, pusat perbelanjaan, gudang tak terpakai, bahkan di luar ruang seperti sisi trotoar atau hutan sekalipun. Selama bulan Januari ini, sebuah ruang kecil di dalam Tobucil, toko buku dan […]

The God of Small Things: Hal-Hal Kecil yang Menghantui

Waktu baca: 5 menit Gentle half-moons have gathered under their eyes and they are as old as Ammu was when she died. Thirty-one. Not old. Not young. But a viable die-able age. Mungkin bukan kebetulan kalau saya baru membaca The God of Small Things karya Arundhati Roy di usia ke-31. Tidak tua. Tidak muda. Tapi usia yang layak, bisa […]

Yang Tersisa dari Turah

Waktu baca: 3 menit Peringatan: Artikel ini memuat bocoran akhir cerita film. “Kamu masih nggak mau punya anak, Ti?” tanya Turah kepada Kanti, istrinya, dalam Bahasa Jawa berdialek Tegal. Kanti membalikkan tubuhnya yang terbaring tempat tidur hingga membelakangi suaminya. Ia menolak keras-keras keinginan suaminya itu. Memiliki anak dan membiarkannya tumbuh dalam kondisi hidup mereka saat itu, menurut Kanti, tidak […]

Arrival, Fiksi Ilmiah yang Puitis

Waktu baca: 3 menit Bayi layaknya mahluk luar angkasa. Ia datang ke dunia dengan bahasa yang asing. Ia berkomunikasi dengan caranya sendiri, yang berbeda dari manusia-manusia yang lebih tua. Ia pun tak mengerti apa yang dibicarakan oleh makhluk-makhluk di sekitarnya, sampai datang seorang manusia untuk mengajarinya. Ada alasan mengapa bahasa pertama yang dikenal seorang manusia disebut bahasa ibu. Ibu adalah […]