BukuKegiatan

Maria Mampir ke Bandung

Waktu baca: 6 menit

“Nggak papa, hujan itu kan berkah,” ujar Feby Indirani dengan santai, menanggapi keluhan saya akan hujan badai yang tiba-tiba mengguyur Bandung kala itu. Dua kali Bukan Perawan Maria mampir ke kota ini, dua-duanya diiringi oleh hujan.

Bandung tak jauh berbeda dengan Jakarta. Kala dilanda hujan yang agak besar, jalan-jalan tergenang air sehingga macet pun muncul di mana-mana. Saya yang sejak kecil tinggal di kota ini sudah cukup hafal tabiat barudak Bandung. Kalau hujan, mereka jadi malas keluar rumah dan penginnya cuma makan mi instan pakai cengek di rumah. Yah… tabiat saya juga begitu, sih.

Kendati begitu, mungkin Feby benar kalau hujan membawa berkah. Kedua acara kecil Bukan Perawan Maria dan Relaksasi Beragama di Bandung itu tetap hidup. Justru karena hujan yang melatari di luar, bincang santai penuh humor tentang keberagaman jadi terasa begitu hangat di hati.

Maria dan Performans Barudak Bandung

Di kali pertamanya, Maria menyambangi Bandung sebagai bagian dari program Maca. Maca adalah inisiatif apresiasi sastra yang digelar rutin oleh teman-teman Toco Buruan.co. Hari Sabtu itu, 24 Maret 2018, kami berkumpul di 372 Kopi Dago Pakar.

Selain bincang santai yang menjadi jantung acaranya, seniman-seniman muda Bandung juga ikut memeriahkan acara. Sebelum memasuki ruangan di mana acara dilangsungkan, pengunjung disambut oleh serangkaian foto karya Musa bin Hamdani, merespons cerita-cerita di dalam Maria.

Kemudian tiga perempuan muda membuka acara. Dua di antaranya berhijab dan sedang mematut diri di depan kamera dan laptop. Satu orang yang tidak berhijab berkata ke arah kamera yang menyorotnya, “Halo guys, kali ini kita akan melakukan tutorial bersama Fitri Hijabi Store.” Dia adalah A.Y. Sekar F., atau lebih akrab dipanggil Sekar.

Tutorial daring ini ternyata sebuah performans. Fitri Hijabi Store pun bukan sembarang toko hijab daring. Ini adalah sebuah proyek seni hasil residensi Sekar di Omni Space. Motif-motif hijab yang dijualnya tidak biasa. Ada yang berhiaskan daun-daun ganja berwarna hijau. Ada juga yang menampilkan gambar perempuan-perempuan bertudung dari beberapa lukisan klasik, tapi wajahnya diganti dengan wajah-wajah ikon hijabers Indonesia.

Wajah hijaber yang sering muncul di motif hijab buatan Sekar adalah Laudya Cynthia Bella. Alasannya? Dia adalah selebritas berhijab yang paling banyak muncul di hasil survei awal Sekar untuk proyek ini.

Setelah performans ini berakhir, Feby mengajukan pertanyaan kepada dua orang teman Sekar yang ikut serta. Sehari-hari keduanya memang berhijab. “Gimana perasaan kalian terhadap hijab-hijab yang dibuat Sekar? Apa kalian benar enggak keberatan terlibat dalam proyek ini?” begitu kira-kira pertanyaan Feby.

Keduanya, meski sadar dengan komentar miring teman-teman mereka terhadap hijab-hijab karya Sekar, sama sekali tak memusingkan hal itu. “Motifnya unik. Aku suka. Lagi pula, bahannya enakeun pas dipakai di kepala,” ujar salah satunya sambil tertawa.

Enakeun itu artinya nyaman. Dan ini Bandung, hijab bisa jadi sekadar fesyen dan hijab bermotif provokatif mungkin bisa jadi tren.

Pada sesi bincang-bincang yang dimoderatori Zulfa Nasrullah, ada dua pembahas yang menemani Feby. Adhimas Prasetyo membahas Maria dari sisi kesastraan, sedangkan Muaz Malik banyak berkelakar tentang perilaku-perilaku manusia yang menuhankan agama.

Disinggung tentang ide di balik terciptanya cerita-cerita di balik Maria, Feby menjawab bahwa semuanya berangkat dari pertanyaan “bagaimana jika”. Bagaimana jika di akhirat muncul pertanyaan dalam Bahasa Sunda? Bagaimana kalau di sana tidak ada bidadari?

Saat tiba malam, acara ditutup dengan satu lagi performans. Kali ini adalah Transient Void dan Rama Putranta membawakan interpretasi mereka terhadap cerpen “Ruang Tunggu” dalam buku Maria. Hasilnya adalah musik derau yang dipadu dengan lengkingan gitar elektronik dan vokal yang merintih, menimbulkan suasana yang mencekam dan penuh keputusasaan.

Setelah suasana yang cukup tegang dari musik yang dibawakan Transient Void dan Rama Putranta, EIR hadir menutup acara. Di tengah lagu-lagu akustik yang dibawakan EIR, Feby berpindah duduk ke sebelah saya. “Duh, kalau dengar lagu-lagu begini, gue jadi ingat masa muda waktu kuliah di Bandung, nih,” celetuknya sambil menyeringai.

Temu Singkat yang Hangat

Lain di Maca, lain pula yang terjadi saat perayaan ulang tahun kedua Nimna Book Cafe, Sabtu, 21 April 2018. Dimiliki oleh dua orang perempuan asal Bandung, Agnes Stephania dan Della Angelina, Nimna memang sengaja menjatuhkan ulang tahunnya di Hari Kartini. Mereka begitu antusias mengundang Feby, sebagai penulis perempuan yang berani mendiskusikan hal-hal yang dianggap tabu, dan berbincang tentang Maria.

Acara terpaksa dimundurkan waktunya selama satu jam. Hujan badai mendera Bandung sore itu dan jalanan macet karena banjir di berbagai titik. Walau dengan kondisi seperti itu, teman-teman Bandung tetap hadir juga di Nimna, sebagian dalam kondisi berbasah-basahan.

Acara ini juga didukung oleh teman-teman dari CS Writers Club Bandung. Saya dan dua orang teman dari CS Writers Club, Ayu Oktariani dan Izhar Isra, mengadakan performans kecil dari cerpen “Pertanyaan Malaikat”. Diiringi narasi oleh Agnes Stephania, kami melakonkan Sasmita, Munkar, dan Nakir yang melangsungkan tanya-jawab tak terduga seperti di dalam cerita.

Seusainya, moderator Abi Ardianda membuka acara bincang-bincang dengan Feby dan Sundea, penulis yang membahas Maria malam itu. Selain tentang Maria, Abi juga banyak bertanya tentang gerakan Relaksasi Beragama kepada Feby. Sundea, atau Dea, sendiri sudah pernah membuat review buku Maria di blog-nya. Satu hal yang digarisbawahi Dea tentang Maria adalah meski bernada kritik, Feby membawakannya tanpa bertindak menghakimi. Cerita-cerita di dalam Maria selalu mengajak pembaca memahami tindakan yang dilakukan tokoh-tokohnya.

Yang menarik dari acara malam itu adalah “curhat-curhat” tentang agama yang disampaikan oleh mereka yang hadir. Feby memang memancing audiens untuk membagikan pengalaman mereka beragama atau tentang agama.

Ada Ayu, yang bercerita tentang bagaimana ia merasa “dipaksa” berhijab sejak kecil dan pertentangan yang dialaminya ketika membuka hijab beberapa tahun lalu. Kemudian, ada juga Caca. Ia mengemukakan pengalaman yang berbanding terbalik. Ia bercerita bagaimana ia dan keluarganya telah mencoba dua kepercayaan berbeda, Islam dan Sirnagalih, namun justru di dalam Islam dan hijab yang ia kenakan sekarang, ia menemukan kedamaian.

Menutup kedua cerita itu, Feby menyampaikan bahwa ruang-ruang seperti itulah yang ingin diciptakannya dari gerakan Relaksasi Beragama. Sebuah ruang diskusi yang hangat dan terbuka, di mana berbagai orang dengan berbagai kepercayaan–meski saling bertolak belakang–dapat duduk bersebelahan dan berkomunikasi. Tanpa saling menghakimi, tanpa saling merasa benar.

Meski pembacaan cerita “Perempuan yang Kehilangan Wajahnya” oleh Feby dibatalkan karena malam telah larut, acara ditutup dengan senyum puas baik oleh pengisi acara maupun mereka yang hadir menyaksikan. “Gue senang deh, kalau ada yang mau berbagi cerita seperti tadi,” ujar Feby berseri-seri setelah acara berakhir.

Pertemuan singkat namun berisi seperti malam itu seharusnya lebih banyak diadakan.  Setidaknya lebih banyak daripada pertengkaran di dunia maya yang riuh namun tanpa makna. Siapa tahu, dunia ini jadi lebih banyak dipenuhi cinta, bukannya benci. Dan kita bisa merangkul kemungkinan bahwa bisa jadi kita bukanlah pihak yang paling benar.


Di Bandung, buku Bukan Perawan Maria bisa didapat di:

  • Kineruku, Jl. Hegarmanah no. 52.
  • Toco, 372 Kopi Dago Pakar, Jl. Dago Pojok no. 23, atau lewat akun Instagram @toco.buruan.co.
  • Nimna Book Cafe, Grha Satria, Jl. Sukahaji no. 126.
  • Kelindan Buku, Coop Space Unpar, Jl. Menjangan, atau di lapak Lawang Buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *